Buddha Dharma Luar Biasa

Desember telah datang untuk menutup tahun 2011. Tetapi awal Desember adalah awal yang indah untuk umat Buddha di Jambi. Lewat kerja dan karya MBI dan Imabi Jambi, sebuah upaya untuk terus memutar roda Dharma terus dilakukan. Dengan bekerjasama dengan Pusdiklat Agama
Buddha, pada tanggal 1- 7 Desember telah diselenggarakan serangkaian kegiatan pembinaan umat di propinsi Jambi dengan tajuk kegiatan Buddha Dharma Luar Biasa.
Rangkaian kegiatan dimulai tanggal 1 Desember 2011 jam 7 malam di bakti sala utama wihara Sakyakirti, Jambi. Up. Hendra Lim dari Pusdiklat ABI berbagi kepada para umat yang hadir tentang perlunya kita memerlukan agama.  Esok siang, 2 Desember 2011, perjalanan
dilanjutkan ke kota Kuala Tungkal, 3 jam perjalanan dari kota Jambi. Para sahabat dharma di wihara Buddhayana, Kuala Tungkal dimotivasi dan diberi semangat tentang pentingnya memiliki kecerdasan dan ketrampilan untuk bekal mereka menjalani kehidupan di masa depan Acara berikutnya kembali di adakan di wihara Sakyakirti hari Sabtu malam. Tema yang dibawakan oleh bro MoMing adalah keistimewaan agama Buddha. Agama Buddha memang unik dan berbeda. Di kebaktian Minggu pagi tanggal 4 Desember, bro MoMing berbicara tentang Kekuatan Tindakan.
Senin malam tanggal 5 Desember 2011 adalah hari istimewa. Pada malam itu, pada yang saat yang bersamaan diadakan dua kegiatan di wihara Sakyakirti dan wihara Buddhayana, Muara Bungo. Di Sakyakirti, hadir DR. Ponijan Liaw untuk menyampaikan ceramah dengan judul "Komunikasi dalam Organisasi Buddhis." Bro Hendra Lim berada di Muara Bungo dan berbicara tentang pentingnya memiliki kompetensi agar bisa meraih hidup yang mulia dengan bekerja cerdas, bukan bekerja keras. Rangkaian kegiatan berakhir tanggal 6 Desember dengan sesi tanya jawab. Dalam kesempatan ini, hadir pula romo Setyawan yang pernah menjabat sebagai Ketua MBI Jabar. Beliau ikut memeriahkan diskusi dan tanya jawab dengan para peserta yang hadir. Rangkaian kegiatan ini tanpa terasa terjalin selama 7 hari. Satu hal yang paling nyata dilihat dan dirasakan dari perjalanan ini adalah minusnya pembinaan kepada umat Buddha di daerah, baik oleh anggota Sangha maupun pandita. Semoga kegiatan ini sedikit memuaskan dahaga akan pembinaan dharma bagi para umat di daerah.(U.P Hendra Lim)