TAHUN BARU JAWA DI VIHARA DHARMA JATI GROBOGAN

Peringatan Tahun Baru Jawa atau yang dikalangan orang-orang jawa lebih dikenal dengan Tanggap Warso 1 Suro merupakan ritual yang berakar dari tradisi masyarakat jawa dalam menyambut tahun baru, acara ini dihelat setiap menjelang pergantian tahun tepatnya dimalam Tahun Baru dengan mengumandangkan kidungan slamet(nyanyian keselamatan) guna memohon keselamatan Kepada Tuhan untuk menjalani kehidupan  selama satu tahun kedepan. Pada Perkembanganya tradisi ini mengalami akulturasi dengan agama-agama yang ada. Sebagai salah satu contoh peringatan tahun baru jawa di kalangan umat Buddha Wihara Dharma Jati di desa prigi,kecamatan Grobogan Jawa Tengah diadakan guna memohon keselamatan kepada Tuhan dan juga melestarikan budaya warisan para leluhur dengan melaksanakan Puja Bhakti bersama di Vihara, kidungan slamet pada jaman dahulu  ditambah dengan penguncaran Paritta dan Mantra-Mantra Suci. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 28 November 2011 pukul 10.00 s/d. 12.00 di Bhaktisala Vihara Dharma Jati dan diikuti seluruh umat budha Desa Prigi. Berkenan hadir dan memberikan Dharmadesa pada acara tersebut Bikkhu Sasana Bodhi Thera, acara ini dihadiri pula oleh U.P Vesaka Murti beserta rombongan dari Semarang. Acara diawali dengan Persembahah Puja dan Penyalaan Lilin di Altar Sang Buddha yang kemudian dirangkai dengan Puja Bhakti bahasa jawa, seusai puja bhakti acara dilanjutkan dengan Meditasi dan renungan 1 Suro. Dharmadesana yang disampaikan oleh Bhante Sasana Bodhi mengambil tema "Makna peringatan 1 Suro" memerikan gambaran tentang peringatan ini dalam sudut pandang umat Buddha. Agar tidak menghilangkan kesan ritual adat dan budaya seusai Dharmadesana dinyanyikan Kidung 1 Suro yang berisi doa kebahagiaan dan keselamatan bagi semua makhluk. Acara diakhiri dengan Pemberkahan oleh Bikkhu Sangha serta doa Namaskara sebagai doa penutup. Peringatan tahun baru jawa ini sebenarnya sudah dimulai sejak setengah bulan sebelumnya dengan upacara Punggahan yaitu bersama-sama membersihkan makam para leluhur(orang tua, sanak famili) dirangkai dengan dengan ziarah kemakam-makam leluhur dan dilanjutkan dengan kenduri bersama, rangkaian acara ini disebut dengan nyadran atau sadranan. Tujuh hari menjelang tahun baru masyarakat biasanya mengadakan ritual puasa mutih(tidak makan makanan yang berasa dan berbumbu) hingga tiba pada puncak acara yaitu peringatan Tahun Baru Jawa yang jatuh pada tanggal 1 Suro tahun Saka. Acara peringatan 1 suro ini menunjukkan bahwa agama Buddha mampu berkembang selaras dengan kebudayaan dan adat setempat, sebuah keharmonisan yang tercipta diantara dua hal yang asal dan asas-nya berbeda, sukkhi hottu.(Oei Pek Kin)